Minggu, 16 Agu 2026 00:16 WIB

Dosen UNAIR Bawa Inovasi Pakan Limbah Kopi ke Lereng Argopuro

Kolaborasi lintas fakultas dan lintas lembaga hadirkan solusi keuangan, kesehatan ternak, hingga pakan berbasis limbah kopi bagi kelompok ternak SiKambing Desa. Foto/Tim Pengmas
Kolaborasi lintas fakultas dan lintas lembaga hadirkan solusi keuangan, kesehatan ternak, hingga pakan berbasis limbah kopi bagi kelompok ternak SiKambing Desa. Foto/Tim Pengmas

JEMBER, BERITAPROBOLINGGO.COM - Peternak kambing dan domba di Desa Sukorambi, Kabupaten Jember, mendapat pendampingan dari Universitas Airlangga (UNAIR). Program tersebut memadukan pengetahuan peternakan, kesehatan hewan, pemanfaatan limbah kopi hingga pengelolaan keuangan keluarga.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu berlangsung di Dusun Curahdami, kawasan lereng Gunung Argopuro, Sabtu (15/8/2026). Kelompok ternak SiKambing Desa menjadi salah satu sasaran pendampingan.

Tim UNAIR memberikan pelatihan yang tidak hanya berkaitan dengan cara merawat kambing dan domba. Peternak juga dikenalkan dengan pemanfaatan kulit kopi sebagai bahan pakan serta cara mengelola pendapatan usaha ternak berdasarkan prinsip keuangan syariah.

Program tersebut melibatkan dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR. Tim dipimpin Dr. Irham Zaki, S.Ag., M.EI., bersama Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P., dan Prof. Dr. Sri Herianingrum, S.E., M.Si.

UNAIR juga menggandeng UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (HMT dan HT) Provinsi Jawa Timur serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember.

Kolaborasi lintas pihak itu mengusung konsep hexa helix untuk memperkuat potensi peternakan rakyat melalui keterlibatan akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan media.

“Desa Sukorambi punya potensi peternakan kambing dan domba yang besar, tapi selama ini pengelolaannya masih konvensional, baik dari sisi pakan, kesehatan ternak, maupun keuangan keluarga,” ujar Irham.

Salah satu materi yang mendapat perhatian peternak adalah pemanfaatan limbah kulit kopi. Bahan yang selama ini kerap dibuang dapat diolah menjadi pakan untuk domba lokal.

drh. Sanul Karimah menjelaskan kulit kopi dapat difermentasi dengan tebon jagung, dedak padi, dan EM4 selama 14–21 hari. Hasil pengolahan dapat digunakan sebagai complete feed dengan kandungan protein kasar sekitar 11–12 persen.

Pemanfaatan kulit kopi dinilai cocok diterapkan di Sukorambi karena sebagian warga juga berprofesi sebagai petani kopi.

“Peternak di sini banyak yang juga bertani kopi. Kulit kopi murah, bahkan gratis kalau peternak memiliki kebun sendiri,” kata Sanul.

Menurut dia, bahan tersebut juga memiliki daya simpan relatif lama dan dapat membantu mengurangi bau amonia dari kandang.

Konsep yang diperkenalkan UNAIR tidak berhenti pada pemanfaatan limbah kopi. Kotoran ternak juga dapat diolah menjadi pupuk organik untuk dikembalikan ke lahan pertanian.

Dengan pola tersebut, peternak bisa membangun siklus usaha yang saling terhubung. Limbah kopi menjadi pakan, kotoran ternak menjadi pupuk, sementara hasil pertanian kembali mendukung kebutuhan peternakan.

Pendampingan juga menyasar pengelolaan keuangan keluarga. Lina Nugraha Rani, S.E., M.SEI., memberikan materi mengenai perencanaan keuangan Islam.

Peserta diajak menyusun anggaran berdasarkan simulasi pendapatan Rp2 juta per bulan. Pendapatan dibagi untuk kebutuhan pokok, pendidikan anak, tabungan, dana darurat, transportasi, serta zakat dan infak.

Peternak juga mendapatkan informasi mengenai sejumlah program yang dapat membantu akses pendidikan dan kesejahteraan keluarga, seperti Program Indonesia Pintar (PIP), Program Makan Bergizi, dan KIP Kuliah.

Sementara itu, Prof. Sunaryo Hadi Warsito memberikan materi mengenai pemeliharaan kambing dan domba. Pembahasan mencakup manajemen kandang, pakan, pencegahan penyakit, hingga penanganan gangguan kesehatan ternak.

Pelatihan dilanjutkan dengan praktik lapangan. Peternak diajak membuat silase dari rumput yang tersedia di sekitar desa untuk dijadikan cadangan pakan.

Peserta juga mempraktikkan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk organik padat dan cair. Mengingat banyak peternak juga memiliki lahan pertanian, pupuk tersebut dapat digunakan sendiri maupun dikembangkan sebagai produk bernilai jual.

Praktik pemberian obat cacing kepada ternak turut dilakukan. Teknik tersebut diberikan agar peternak dapat melakukan perawatan dasar secara mandiri.

Kegiatan praktik dipandu Prof. Sunaryo Hadi Warsito, drh. Sanul Karimah, dan Hanif Kurniawan, A.Md.Vet., dengan supervisi Dr. Irham Zaki.

Selain pelatihan, kelompok ternak SiKambing Desa menerima bantuan vitamin dan obat dari UPT HMT dan HT Jawa Timur.

Bantuan yang diserahkan berupa 500 bolus vitamin B kompleks dan 100 bolus obat cacing. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus mendukung produktivitas ternak milik warga.

Ketua kelompok ternak SiKambing Desa, Subaedi, menyambut baik pendampingan tersebut. Menurut dia, para peternak memperoleh pengetahuan baru, terutama terkait pemanfaatan limbah kulit kopi dan pengelolaan pendapatan hasil ternak.

Ke depan, Dr. Irham Zaki berharap model pendampingan serupa dapat diterapkan di desa-desa lain di kawasan lereng Argopuro.

“Pengabdian ini bukan kegiatan sekali jalan. Kami ingin ada pendampingan berkelanjutan, terutama dalam penerapan formulasi pakan berbasis limbah lokal dan pengelolaan keuangan keluarga,” katanya.

Pendampingan tersebut menjadi upaya UNAIR menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan peternak di tingkat desa. Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat menekan biaya produksi, mengurangi limbah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi keluarga peternak.

Editor : Redaksi