Sabtu, 31 Okt 2026 17:22 WIB

11 Tahun Mengabdi, Malang Autism Center Perluas Layanan bagi Anak Autisme dan Penyandang Disabilitas

Founder sekaligus CEO MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.
Founder sekaligus CEO MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.

MALANG - Keterbatasan ekonomi masih menjadi kendala bagi sebagian keluarga untuk memberikan terapi secara rutin kepada anak dengan autisme. Kondisi tersebut menjadi perhatian Malang Autism Center (MAC) yang terus berupaya memperluas akses layanan terapi dengan biaya terjangkau.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program Omah Terapi Autis (OTA). Program ini memberikan kesempatan kepada anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendampingan dan terapi dengan biaya yang disesuaikan kemampuan orang tua.

Bahkan, salah satu keluarga penerima manfaat mengaku hanya membayar Rp100.000 per bulan untuk mendapatkan layanan terapi bagi anaknya.

MAC yang berdiri di Kabupaten Malang sejak Oktober 2015 kini memasuki usia ke-11. Selama lebih dari satu dekade, lembaga tersebut mengembangkan layanan terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA), sekaligus memperluas fasilitas dan kegiatan sosial bagi anak serta penyandang disabilitas.

Founder sekaligus CEO MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi seharusnya tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh layanan yang dibutuhkan.

“Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang. Karena itu, kami ingin terus membuka kesempatan bagi anak-anak dengan autisme agar mendapatkan layanan terapi, belajar mengembangkan keterampilan, dan membangun kemandirian sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Cahyadi.

Ia menjelaskan, melalui program OTA, MAC berupaya membantu keluarga yang kesulitan membiayai terapi secara berkelanjutan.

“Kami tidak ingin keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan terapi. Melalui program Omah Terapi Autis, kami berupaya membantu keluarga agar anak-anak tetap memperoleh pendampingan yang mereka butuhkan,” katanya.

Program tersebut menunjukkan perkembangan. Jumlah penerima manfaat OTA yang awalnya hanya dua anak kini bertambah menjadi 10 anak.

MAC juga memperluas jangkauan layanan melalui OTA Neptunus yang mulai berjalan pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.

Orang Tua Rasakan Perubahan Perkembangan Anak

Manfaat layanan OTA dirasakan Dita Agustina, warga Jetak Lor, Kabupaten Malang. Ia mulai membawa anaknya mengikuti terapi pada Agustus 2025, ketika sang anak berusia 10 tahun.

Sebelum mendapatkan terapi rutin, anak Dita kerap mengalami tantrum. Perilaku tersebut antara lain melempar barang, membuang makanan setelah makan, hingga menendang meja.

Namun, setelah menjalani pendampingan, perilaku tersebut berangsur berkurang.

“Sedikit demi sedikit, alhamdulillah, ada perkembangan. Perkembangannya luar biasa,” kata Dita saat ditemui di OTA Neptunus, Jumat (30/10/2026).

Perubahan juga terlihat pada kemampuan belajar anaknya. Kini, anak Dita yang berusia 11 tahun dan duduk di kelas V sekolah dasar inklusi mulai mampu memegang pensil dan menulis dengan arahan.

“Dulu sama sekali belum bisa. Sekarang sudah mulai bisa memegang pensil, sudah mulai diarahkan dan bisa menulis,” ungkapnya.

Dalam kesehariannya, anak Dita bersekolah pada pagi hari, kemudian mengikuti terapi di OTA mulai pukul 12.00 hingga 16.00 WIB.

Untuk mendapatkan layanan tersebut, Dita membayar Rp100.000 setiap bulan.

“Di sini seikhlasnya. Saya membayar Rp100.000 per bulan. Sangat terbantu sekali, alhamdulillah,” tuturnya.

Dita mengetahui keberadaan OTA dari tetangganya. Setelah itu, ia mengurus surat keterangan tidak mampu melalui RT dan RW untuk mendapatkan akses program tersebut.

Ia berharap perkembangan anaknya terus meningkat setelah mengikuti terapi. Dita juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap layanan terapi bagi anak dengan autisme.

“Harapan saya, semoga anak saya semakin berkembang setelah menjalani terapi di Omah Terapi Autis ini. Semoga pemerintah bisa semakin membantu,” katanya.

DPRD Minta Pemerintah Perkuat Dukungan Anggaran

Keberadaan MAC turut mendapat perhatian anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Made Riandiana Kartika. Ia menilai kiprah Cahyadi melalui MAC telah memberikan manfaat nyata bagi anak dengan autisme dan keluarga mereka.

Made menilai lembaga seperti MAC membutuhkan dukungan pemerintah agar pelayanan bagi penyandang disabilitas dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Ia mengakui Pemerintah Kota Malang telah menggagas Posyandu Disabilitas dan membuka sekolah inklusi. Namun, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan tenaga pendamping yang memiliki keahlian khusus.

“Pemkot Malang sedang menggagas Posyandu Disabilitas dan membuka sekolah inklusi, tetapi kendalanya klasik: kita belum punya tenaga pendamping berkeahlian khusus,” ujar Made.

Menurutnya, MAC telah membangun layanan secara mandiri dan memiliki jejaring kerja yang kuat. Karena itu, pemerintah perlu hadir memberikan dukungan anggaran agar beban pelayanan tidak hanya ditanggung lembaga swasta.

“MAC sudah berdiri sangat mandiri dengan jejaring kuat. Tinggal bagaimana pemerintah hadir memberi dukungan anggaran agar bebannya tidak melulu ditanggung swasta,” katanya.

Made menambahkan, DPRD Kota Malang dapat mendorong penguatan layanan tersebut melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap pengabdian Cahyadi yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

“Kalau ada yang mengatakan Pak Cahyadi ingin menjadi wali kota, saya rasa jangan sampai Bapak menurunkan derajat Bapak,” ujar Made.

Ia bahkan menilai kontribusi sosial yang dilakukan Cahyadi melalui MAC memiliki arti besar bagi masyarakat.

“Apa yang sudah Bapak lakukan bahkan berada di atas kedudukan seorang wali kota. Pemerintah kota sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding pengabdian beliau,” tambahnya.

Kembangkan Fasilitas dan Kegiatan Sosial

Selain memberikan layanan terapi, MAC juga mengembangkan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.

Salah satunya melalui kerja sama dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan untuk membantu mengidentifikasi dan mendata penyandang disabilitas yang membutuhkan layanan fisioterapi.

Pelayanan tersebut ditindaklanjuti melalui Klinik Patria, klinik fisioterapi yang menjadi bagian dari layanan MAC.

MAC juga menjalankan program Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan yang dimulai setiap Jumat pada 2023 itu kemudian berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.

Program tersebut tidak hanya menjadi sarana berbagi kepada masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran praktis bagi anak dengan autisme melalui aktivitas terstruktur dan pendampingan sesuai kebutuhan.

Dari sisi fasilitas, MAC mengembangkan kapasitas layanan dari satu gedung menjadi dua gedung pada 2025.

Ke depan, MAC merencanakan pembangunan gedung ketiga di Jalan Manggar Nomor 08, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Sementara gedung keempat direncanakan berdiri di Jalan Ki Atas Angin, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Cahyadi berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam memperluas akses pendampingan bagi anak dengan autisme dan penyandang disabilitas.

Menurutnya, perhatian terhadap kelompok tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, komunitas, tenaga profesional, dunia usaha, hingga pemerintah.

“Harapan kami, semakin banyak pihak yang terlibat dalam memberikan perhatian kepada anak dengan autisme dan penyandang disabilitas. Sebab, pendampingan mereka bukan hanya tanggung jawab keluarga atau lembaga, melainkan membutuhkan kepedulian bersama,” tuturnya.

Dengan mengusung semangat “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”, MAC berkomitmen memperluas jangkauan layanan sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan akses pendampingan bagi anak dengan autisme dan penyandang disabilitas.

Editor : Redaksi