Biosolar Subsidi Langka, Petani di Empat Kecamatan Probolinggo Kelimpungan

Reporter : Redaksi
SPBU di desa muneng yang mengalami stok kosong biosolar

PROBOLINGGO – Keterlambatan distribusi Biosolar bersubsidi ke SPBU 53.672.23 di Desa Muneng, Kabupaten Probolinggo, memicu keluhan dari kalangan petani.

Pasokan bahan bakar yang biasa digunakan untuk mendukung operasional alat dan mesin pertanian itu dilaporkan belum kembali diterima sejak pengiriman terakhir pada 23 September.

Baca juga: Makanan Basi Lolos Kualifikasi, Dua Sekolah di Kota Probolinggo Tolak Menu MBG 

Kondisi tersebut berdampak pada petani di sejumlah wilayah yang selama ini mengandalkan SPBU tersebut sebagai lokasi penyaluran Biosolar subsidi melalui mekanisme surat rekomendasi dan barcode dari Dinas Pertanian. 

Wilayah pelayanan itu meliputi Kecamatan Sumberasih, Wonomerto, Bantaran, dan Lumbang.

Pengawas SPBU 53.672.23, M. Zainul, mengatakan stok Biosolar saat ini dalam kondisi kosong karena belum ada pengiriman lanjutan dari Pertamina.

Menurutnya, pihak SPBU telah berupaya melakukan koordinasi untuk menanyakan jadwal distribusi, namun hingga kini belum memperoleh kepastian.

“Pengiriman terakhir diterima pada tanggal 23 September. Setelah itu belum ada pasokan lagi. Padahal SPBU ini melayani kebutuhan Biosolar subsidi bagi petani yang telah mengantongi rekomendasi resmi,” ujarnya, Kamis (1/10).

Kosongnya stok Biosolar tersebut mulai dirasakan dampaknya oleh para petani.

Baca juga: Isu Sepinya Pengunjung Mewarnai Penutupan Rangkaian Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo

Mereka mengaku kesulitan memperoleh bahan bakar untuk mengoperasikan traktor maupun mesin pompa air yang dibutuhkan dalam pengolahan lahan dan irigasi pertanian.

Salah seorang petani, Zaini, menuturkan bahwa dirinya bersama petani lain telah memenuhi seluruh persyaratan untuk mendapatkan Biosolar subsidi. 

Namun, ketersediaan bahan bakar di SPBU yang terus kosong membuat kebutuhan operasional pertanian terganggu.

“Kami sudah mengurus rekomendasi dan barcode, tetapi saat datang ke SPBU stoknya tidak ada. Padahal kebutuhan untuk traktor dan mesin sedot air cukup mendesak, terutama saat musim tanam,” katanya.

Baca juga: Rumah Dinas Bidan di Kota Probolinggo Dibobol Maling, Beras dan Minyak Ditinggalkan, Smartwatch Raib

Menurutnya, keterbatasan pasokan tersebut memaksa sebagian petani mencari alternatif lain yang membutuhkan biaya lebih tinggi. Situasi itu dikhawatirkan dapat meningkatkan beban produksi pertanian jika berlangsung dalam waktu lama.

Sementara itu, pengelola SPBU berharap distribusi Biosolar subsidi dapat segera kembali normal.

Kepastian jadwal pengiriman dinilai penting agar kebutuhan petani di empat kecamatan dapat terpenuhi dan aktivitas pertanian tidak terganggu lebih lanjut.

Para petani juga mendesak agar pasokan Biosolar segera direalisasikan mengingat bahan bakar tersebut menjadi salah satu kebutuhan utama dalam mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru